Hanami kerap diterjemahkan sebagai "melihat bunga", terutama bunga sakura. Namun, tradisi ini juga mencakup piknik dan makan bersama di bawah pohon yang sedang berbunga. Perpaduan antara menikmati pemandangan dan berkumpul itulah yang membuat hanami lebih dari kegiatan memandang sakura.[1]
Sakura menandai datangnya musim semi
Mekarnya sakura melambangkan kebahagiaan atas tibanya musim semi.[1] Jadi, bunga yang dinikmati saat hanami bukan sekadar pemandangan indah: mekarnya juga memberi makna musiman pada perayaan itu. Pergantian musim hadir sebagai sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati bersama.
Waktu hanami pun berkaitan dengan kondisi bunga. Tradisi ini dilakukan ketika semua pohon sakura di suatu tempat telah mekar; prakiraan pergerakan mekarnya bunga disebut sakurazensen atau garis depan bunga sakura.[1] Artinya, momen perayaan mengikuti perkembangan bunga, bukan hanya tanggal tetap di kalender.
Dari menikmati bunga menjadi berkumpul
Tikar dan hidangan mengubah cara orang menikmati sakura: perhatian tidak hanya tertuju pada bunga, tetapi juga pada kegiatan makan bersama di bawah pohon.[1] Secara editorial, inilah sisi sosial hanami yang paling kentara. Pemandangan menjadi titik temu, sementara piknik memberi alasan untuk tinggal dan berbagi waktu di ruang yang sama.
Ruang di bawah pohon sakura dengan demikian punya dua peran dalam hanami: menjadi tempat menikmati bunga sekaligus tempat berkumpul. Makna ini tumbuh dari bentuk perayaannya sendiri, bukan semata-mata dari simbolisme sakura. Hanami merayakan datangnya musim semi sambil menjadikan keindahan bunga sebagai bagian dari kebiasaan bersama.[1]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Hanami. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29966700&title=Hanami (diakses 2026-10-02).
